Menyoal Budaya Literasi di Lingkungan Pesantren

Dalam salah satu hadist yang dikutip oleh Imam
Al-Ghazali dalam Ihya Ulumudin dinyatakan bahwa “Tinta para pelajar (yang
menulis) setara dengan darah para Syuhada.” Islam sudah memberikan jaminan
kepada umat islam, ketika mau dan mampu menulis dengan tujuan dakwah, maka
jaminannya adalah pahala setara Syuhada.
            Banyak
kalangan ulama yang mampu menulis kitab-kitab yang jumlahnya tidak sedikit dan
setiap kitabnya beratus-ratus hingga ribuan halaman. Di antaranya adalah
Muhamad Ibn Idris Al-Syafi’I (767-820) melalui kitab Al-Umm, Abu Hamid
Al-Ghazali, Muhamad Abu Al-Wahid Ibn Rusyd, serta tokoh yang sangat di kenal di
Indonesia, yakni HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) melalui Tafsir
Al-Azharnya.

            Selain
beberapa tokoh tersebut, ada juga ulama asal Banten, Syeikh Nawawi Al-Bantani
(1813-1897), kendati sudah berpulang ke rahmatullah, namun karya-karyanya
sangat melegenda, bukan di lingkungan Banten semata, namun sudah ke dunia
Internasional. Sudah banyak peneliti yang menjadikan karya-karyanya sebagai
makalah, skripsi, tesis, dan disertasi. Sosok Syeikh Nawawi Al-Bantani
sebagaimana yang dikatakan Jalaludin Al-Rumi,”Biarkan jasad-jasadku terkubur
dalam-dalam di antara himpitan bumi, tetapi jiwaku akan tetap hidup bersemayam
di antara bibir-bibir umat manusia.”
            Berbagai
karya ulama-ulama besar tersebut sungguh luar biasa, beliau-beliau mengamalkan
hadist nabi,”Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia
lainnya.” Sosok Syeikh Nawawi Batani menurunkan budaya literasinya kepada
murid-muridnya, di antaranya KH. Hasyim Asy’ari, yang sekaligus pendiri NU, KH.
Khalil dari Bangkalan Madura, dan ulama besar lainnya.
            Dalam
proses literasi tersebut, memang tidak mudah dan tidak sebentar, perlu proses
yang lama, perlu upaya yang intens guna mendapatkan hasil yang baik. Mengapa
perlu waktu yang lama? Sebab berbicara budaya literasi, maka akan berbicara
menyangkut Society Character Building
yang time consuming (membutuhkan
waktu lama), perlu terus disadari dan dilakukan sepenuh hati.
            Kedepannya
Budaya literasi di lingkungan Pesantren akan menjadi rol model bagi lingkungan
lainnya, terlebih pesantren memiliki misi yang jelas, yakni misi dakwah. Dengan
aksi nyata, kolaboratif, terprogram, sinergis dan berkesinambungan bukan hal
yang mustahil kalau suatu hari nanti remaja Indonesia, khususnya seleruh murid
di Pesantren (santri) akan menjadi Syeikh Nawawi Batani baru, HAMKA baru, yang
memiliki misi dakwah sesuai dengan zamannya.