Kearifan Lokal yang Terlupakan oleh Gengsi Zaman Modern

Zaman terus berjalan. Perjalanan zaman tidak hanya
perjalanan waktu, namun menyisakan berbagai keuntungan dan problematika. Satu
sisi memiliki manfaat yang sangat bagus, seperti adanya teknologi internet,
kini tidak ada jarak antara satu daerah dengan daerah lain, setiap orang yang
terkoneksi dengan internet akan saling berhubungan (komunikasi), namun sisi
lainnya, tidak dipungkiri individualis akan terus berjalan, sebab orang lebih
sibuk dengan kehidupan sendirinya bersama teknologi, seakan membiarkan orang di
sampingnya tak saling tegur sapa.

            Belakangan
ini, orang yang tidak tahu dan tidak mampu IT, rasanya sangat memalukan,
minimalnya mampu menggunakan Handphone. Tak sedikit pelajar yang usianya masih
belia sudah membawa HP ke mana-mana, termasuk ke sekolah, bagi sebagian sekolah
hal tersebut diperbolehkan, namun sebagian lagi dilarang. Terlepas dari itu
semua, ada beberapa catatatan yang patut kita perhatikan, di antaranya remaja
kita semakin tinggi gengsinya ketika mengerjakan hal yang berbau adat istiadat,
kesenian daerah, kearifan local. Masih adakah remaja yang mau menari Jaipong,
selain agenda pembelajaran seni Tari? Rasanya sulit, walaupun memang masih ada.
Masih adakah remaja yang rela ikut orang tuanya yang berpekerjaan sebagai
petani, hingga remaja tersebut ikut menanam padi dan memanennnya? Jarang hal
tersebut kita temui, sebab gengsi zaman modern ini yang membawa mereka seakan
asing dengan kearifan local di sekelilingnya.
            Catatan
lainnya yang cukup menggelitik, anak sekarang sudah tak mengenal permainan
local, seperti petak umpet, pecle, atau permainan lainnya yang berbau
kedaerahan. Mereka lebih asyik dengan permainan (game) onlinenya, rela
menghabiskan uang Rp. 5000 hingga Rp. 20.000 setiap harinya.
            Tak
sedikit anak sekolah yang berangkat dari rumah dan diberi bekal oleh orang
tuanya, ternyata tidak sampai ke sekolah, melainkan berbelok ke warnet. Sungguh
dilema sekali pendidikan zaman sekarang, sudah kebijakan pemerintah yang seakan
menyulitkan guru (terlebih honorer dan sukwan) , ditambah kelakukan anak didik
yang sudah terbawa arus teknologi. Bagi pengelola warnet hal tersebut
menguntungkan, jangankan ada perasaan ingin ikut membangun generasi bangsa yang
lebih baik, kenyataannya malah membiarkan dan bersenang hati ketika warnetnya
didatangi oleh siswa padahal masih jam pembelajaran.

            Bagaimana
pendidikan dan generasi Indonesia ke depannya?