Mengefektifkan Pembelajaran dengan Media Pembelajaran

Mengefektifkan
Pembelajaran dengan Media Pembelajaran
           
            Membahas
pendidikan dan pembelajaran tidak akan pernah selesai. Pendidikan dan
pembelajaran bukan hal statis, yang selalu berjalan di tempat, namun suatu
proses yang membutuhkan waktu lama dan selalu dinamis ke depan.
            Bergantinya
kurikulum sebagai jawaban atas kedinamisan pendidikan dan pembelajaran. Untuk
menjawab kedinamisan tersebutlah, maka kurikulum berganti. Memang tidak
dipungkiri banyak masyarakat atau bahkan akademisi sendiri yang mengatakan
pergantian kurikulum tidak terlepas dari pergantian menteri di setiap kabinet
baru atau dalam kabinet pemerintahan yang sama. Terlepas dari prasangka sebagian
besar masyarakat tersebut, memang harus menjadi PR tersendiri agar pergantian
kurikulum tidak dicap karena bergantinya menteri.

            Ada
hal yang kurang mendapat perhatian dari setiap pergantian kurikulum. Banyak
kalangan yang sebatas menyoroti secara berlebihan pada pergantian kurikulum,
padahal yang mengajar di kelas bukan kurikulumnya, namun guru. Sebagus apapun
kurikulumnya jika gurunya tidak memiliki kreativitas dalam mengajar, maka
setiap tahunnya anak didik akan mendapatkan perlakuan yang sama dari guru
tersebut, sehingga ada pandangan belajar itu membosankan.
            Dalam
hal ini penulis bukan berarti menyepelekan kurikulum, sebab sistem juga memang
diperlukan, namun yang harus mendapat perhatian besar adalah yang menjalankan
sistem kurikulum tersebut di lapangan (kelas).
            Kreativitas
guru dalam mentransformasikan materi dibutuhkan sekali. Bagaimana caranya?
Yaitu dengan menggunakan media yang sesuai, dalam artian efektif pada materi
yang disampaikan. Media berarti perantara, atau menurut bahasa latinnya
“medium”. Berdasarkan hal tersebut, maka media pembelajaran dapat dikatakan sebagai
perantara guru dalam mentransformasikan materi pembelajaran. Bila
“perantaranya” efektif maka hasil pembelajaran pun akan efektif dan berdampak
pada kualitas peserta didik yang semakin tinggi.
            Pembaca
mungkin sedikit aneh dengan beberapa kata yang berada di paragrap di atas. Ada
kata “transformasikan” bukan transfer materi pembelajaran. Mengapa seperti itu,
apakah kedua kata tersebut (transformasi, transfer) berbeda? Menurut beberapa
ahli, mentransformasikan bukan sekadar mengantarkan materi dari guru kepada
siswa, namun harus mampu memahamkan siswa dan siswa merasa terpahamkan, bila
transfer sekadar mengirim materi dan siswa sekadar menerimanya, seperti
mentransfer uang lewat ATM, sekadar mengirim dan menerima.
            Sungguh
mulia tugas guru, bukan sekadar mengantar materi pembelajaran, namun harus
menjadi makhluk yang kreatif, unik dan mampu mengemas materi pembelajaran
dengan media yang unik dan menarik perhatian peserta didik. Selain itu sosok
guru sosok mujahid dunia akhirat, sebab bukan sekadar memberikan pembelajaran
namun harus mampu menjadi teladan di hadapan peserta didik dan masyarakat
sekitar.