Aspek Kekuatan Historis Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pembelajaran

Sudah
sepantasnya kita sebagai warga Indonesia berbangga hati ketika menggunakan
bahasa Indonesia, baik dalam pembelajaran, pergaulan, atau sekadar di
lingkungan keluarga. Sejarah sudah mencatatkan perjalanan panjang bahasa
Indonesia menjadi bahasa nasional dan bahasa negara. Bagaimana tidak, negara
ini pernah dijajah oleh Belanda yang begitu keterlaluan hingga bahasa dalam
pembelajaran mesti bahasa Belanda, selanjutnya negara kita pernah dijajah oleh
bangsa Jepang, yang memang sebentar, namun “menyakitkan”. Di manapun penjajahan
tidak ada yang indah, melainkan menyengsarakan.
          Tentu, rakyat Indonesia tidak mau berdiam
diri membiarkan bangsa dan bahasa Indonesia disepelekan dan dibiarkan mati
dalam era penjajahan. Dengan segenap perjuangan akhirnya keberanian muncul
ketika adanya peran strategis terutama sejak bahasa Indonesia
(waktu itu disebut  bahasa Melayu)
memiliki sistem ejaan (C. Van Ophuijsen 1901). Bahasa Indonesia mampu menjadi
bahasa penerbitan berbagai bacaan rakyat (sastra, surat kabar, majalah), bahasa
radio, dan bahasa perhubungan antarsuku bangsa di Indonesia. Saat itu bahasa
Indonesia sebagai bahasa komunikasi perjuangan kemerdekaan.
Selanjutnya
perjuangan terus berjalan, bahkan bahasa Indonesia mampu menyatukan beragam
suku bangsa yang berbeda latar belakang sosial budaya dan bahasa ke dalam satu
kesatuan bangsa Indonesia yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.
Sumpah pemuda adalah pengakuan terhadap (1) satu kesatuan wilayah (satu tanah
air, tanah Indonesia), (2) satu kesatuan bangsa (satu bangsa, bangsa
Indonesia), dan (3) satu bahasa persatuan (menjunjung bahasa persatuan, bahasa
Indonesia). Perluasan  wilayah
penggunaan  bahasa Indonesia dalam
berbagai keperluan tersebut, terutama untuk perjuangan kemerdekaan, telah
melahirkan sikap kesetiakawanan, kebersamaan, keikhlasan, kejujuran,
pengorbanan, dan kepahlawanan.
Hingga puncaknya saat
proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Bahasa Indonesia juga digunakan
sebagai wahana untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia (Teks
Proklamasi ditulis dalam bahasa Indonesia) serta diakui oleh dunia
internasional sebagai negara merdeka. Sehari setelah proklamasi kemerdekaan,
bahasa perjuangan yang mampu menyatukan dan membangun keindonesiaan itu
menyandang peran amat strategis dan mulia, yaitu menjadi bahasa negara (Pasal
36  Undang-Undang Dasar 1945). Dengan
demikian, kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan makin
kokoh (memiliki landasan hukum) dan terus memainkan peran dalam pencerdasan
kehidupan bangsa, sebagaimana amanat pembukaan Undang-Undang Dasar tersebut.
Penempatan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan merupakan
pemikiran strategis para pendiri republik ini karena bahasa perjuangan itu
ditempatkan sebagai sarana penguasaan ilmu, teknologi, dan seni.

Di Indonesia,
terdapat lebih dari 700 bahasa daerah yang masing-masing memiliki tradisi dan
kebudayaan, maka kondisi multilingual dalam masyarakat multibudayaal itu akan
menyebabkan perkembangan bahasa Indonesia beragam sesuai dengan lingkungan dan
budaya masyarakat. Kondisi masyarakat semacam itu makin mengukuhkan kebijakan
penguatan dan penataan ulang kurikulum bahwa mata pelajaran Bahasa Indonesia
tidak dapat dilakukan secara lokal tetapi harus bersifat nasional.
Indonesia tidak
mematikan bahasa daerah justru sebaliknya yakni memliharanya dengan menjadikan
bahasa Indonesia sebagai perantaranya. Satu sisi rakyat kita menjadi rakyat
secara nasional, yakni rakyat Bangsa Indonesia, sisi lain mencintai kebudayaan,
latar belakang, adat istiadat dan kearifan lokalnya (local wisdom).
Masih adakah alasan
untuk membiarkan bahasa Indonesia mati, di era modern ini?