Apa dan Bagaimana Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Teks?

Berbicara bahasa
Indonesia, sangat unik sekali, satu sisi menjadi bahan yang dipelajari sisi
lain menjadi bahan pelajaran yang memang harus dilakukan (komunikasi), bukan
sekadar teori. Seperti itu pula amanat Sumpah Pemuda poin ke 3, “Kami putera
dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”
Berangkat dari itu, maka
sebagai pendidik harus bangga membelajarkan mata pelajaran bahasa Indonesia,
dan bagi peserta didik harus bangga dan lebih semangat mempelajari bahasa
Indonesia, salah satunya dengan pembelajaran berbasis teks.
Pembelajaran berbasis teks dilandasi
oleh asumsi bahwa bahasa adalah alat berkomunikasi dan  berkomunikasi adalah kegiatan berwacana dan
wacana direalisasikan dalam teks. Dengan asumsi tersebut, maka tugas
pembelajaran bahasa adalah mengembangkan kemampuan memahami dan menciptakan
teks karena komunikasi terjadi dalam teks atau pada tataran teks. Asumsi inilah
yang digunakan sebagai dasar pengembangan kompetensi dasar mata pelajaran
bahasa Indonesia domain kognitif dan psikomotor dalam kurikulum 2013.

Komunikasi terjadi dalam teks ini
dilandasi fakta bahwa kita hidup di dunia kata-kata. Ketika kata-kata itu
dirangkai menjadi satu kesatuan untuk mengomunikasikan makna tertentu, itu
artinya kita telah menciptakan teks. Ketika kita berbicara atau menulis untuk
mengomunikasikan pesan tertentu, itu artinya kita telah menciptakan teks.
Ketika kita menyimak atau membaca, itu artinya kita menginterpretasikan makna
yang ada dalam teks.
Menciptakan atau menyusun teks untuk
tujuan tertentu berarti kita melakukan pemilihan bentuk dan struktur teks yang
akan kita gunakan agar pesan tersampaikan secara tepat. Pemilihan bentuk atau struktur teks
oleh penutur untuk mencapai suatu tujuan dalam suatu kegiatan sosial
komunikatif ditentukan oleh konteks situasi yang dihadapi (Halliday, 1985).
Konteks situasi merupakan kesatuan dari beberapa unsur yang tidak dapat
terpisahkan dan saling memengaruhi satu sama lain, yaitu apa yang sedang
dibicarakan, siapa yang terlibat dalam pembicaraan tersebut (sifat dan peran
masing-masing, serta sifat hubungan antara satu dengan lainnya), saluran yang
digunakan (tertulis, lisan, atau kombinasi keduanya, serta tujuan sosialnya
(persuasif, ekspositori, deduktif, dsb.).
Suatu tindakan komunikasi yang
dilakukan untuk mencapai satu tujuan tertentu diwujudkan dalam bentuk kongkrit
berupa teks. Untuk satu tujuan yang sama, biasanya tidak digunakan satu teks
yang persis sama selamanya, tetapi bervariasi dalam hal isi maupun bentuk
bahasa yang digunakan. Meskipun sama, kemiripan antara teks-teks tersebut dapat
dengan mudah diidentifikasi, bahkan oleh orang awam yang tidak memiliki
pengetahuan tentang ilmu bahasa atau ilmu komunikasi. Beberapa teks yang
memiliki kemiripan dalam tindakan yang dilakukan itulah yang biasanya
dikelompokkan dalam satu genre yang sama (Puskur, 2007).
Konsep genre dikaitkan dengan
tindakan komunikatif dalam konteks budaya, sedangkan teks pada konteks yang lebih
spesifik, yaitu situasi komunikatif yang ada. Satu genre dapat muncul dalam
berbagai jenis teks. Misalnya genre cerita, di antaranya, dapat muncul dalam
bentuk teks: cerita ulang, anekdot, eksemplum, dan naratif, dengan struktur
teks (struktur berpikir) yang berbeda (Mahsum, 2013). Baik genre maupun teks
tentunya dapat digunakan sebagai satuan untuk menyusun program pendidikan
bahasa. Keduanya sama-sama berkenaan dengan potensi bahasa sebagai alat untuk
mengembangkan kemampuan berwacana secara efektif.
Jenis teks dapat dikelompokkan
menjadi dua kategori  besar, yaitu teks
sastra dan teks faktual (Anderson, 2003).