Sudah Enggankah Siswa Bersekolah di Sekolah Berbasis Agama (MI/MTs/MA)?

Diposting pada
Sudah Enggankah Siswa Bersekolah di Sekolah Berbasis
Agama (MI/MTs/MA)?
            Pertanyaan
yang sekaligus judul di atas, bukanlah hal yang baru diketahui di kalangan
masyarakat. Namun, merupakan sebuah fenomena yang benar adanya, sampai sekarang
belum mampu terselesaikan. Ntah kenapa dan bagaimana paradigma masyarakat
terhadap sekolah berbasis agama seakan kurang dan tak sefantastis sekolah umum.
Padahal secara kualitas rasanya tidak jauh berbeda, bahkan kelengkapan
pelajarannya lebih lengkap di sekolah yang berbasis agama. Bagaimana secara
keuangan? Berbicara keuangan, sekolah umum sudah dipastikan mahal dibandingkan
dengan sekolah berbasis agama yang sering kita tahu, seperti MI/MTs dan MA?
Lalu apa yang menyebabkan sekolah tersebut seakan sepi peminat?
            Ada
beberapa factor menurut penulis yang menyebabkan sekolah berbasis agama seakan
sepi peminat, bahkan mungkin dilirik pun seakan sebelah mata. Pertama, factor
dari pemahaman, dalam hal pemahaman ini ada dua yakni pemahaman orang tua
terhadap sekolah berbasis agama, dan pemahaman anaknya terhadap sekolah
berbasis agama.

            Masih
ada anggapan bahwa sekolah yang berbasis agama itu kurang memiliki prosfeks
yang bagus ke depannya. Lapangan pekerjaannya minim, jarang perusahaan yang
mengrekrut pegawai dari sekolah yang berbasis agama, di masyarakat sendiri
kurang memiliki tempat, seakan, sekolah yang berbasis agama hanya mempelajari
urusan setelah mati saja. Paradigma semua itu salah besar. Mengapa salah besar?
            Secara
administrasi tengoklah raport peserta didik yang duduk di sekolah umum dengan
sekolah agama. Secara administrasi saja, kelengkapan pelajaran di sekolah
berbasis agama lebih lengkap. Biasanya di sekolah umum, pendidikan agama islam
hanya satu dengan nama PAI. Namun, berbeda jauh ketika anda melihat raport siswa
yang bersekolah di sekolah berbasis agam, pelajaran agama islam, menjadi 5,
tentu dampaknya pun berbeda, keliama pelajaran tersebut yaitu, Akidah Akhlak,
Al-Quran Hadist, Sejarah Kebudayaan Islam, Bahasa Arab, dan Fiqih. Secara
jumlah pelajaran saja sudah berbeda, sekarang pertanyaannya, bagaimana dengan
pengetahuan siswanya, antara siswa di sekolah umum dengan sekolah berbasis
agama? Secara jumlah pelajaran dan dampaknya anda pasti mampu menjawabnya.
            Bagaimana
dengan pelajaran umum yang ada di sekolah berbasis agama?
            Pelajaran
lainnya, semua ada, mulai dari IPA, IPS, Bahasa, hingga olahraga pun ada, tidak
ada yang berkurang di pelajaran sekolah yang berbasis agama. Sekarang
pertanyaannya, mengapa masih banyak orang tua yang lebih percaya menyekolahkan
siswanya ke sekolah umum, bahkan yang lebih memprihatinkan, siswa yang orang
tuanya Khyai, Ustadz, Mubaligh saja menyekolahkan siswanya ke sekolah umum.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana mayarakat yang tidak tahu agama akan
menyekolahkan anaknya ke sekolah berbasis agama, jika para tokoh agamanya saja
lebih memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah umum?
            Faktor
kedua yang penulis garis bawahi adalah peranan pemerintah terhadap sekolah yang
berbasis agama (Islam). Sebuah contoh riil yang ada di lapangan, coba anda
periksa atau lakukan survey kecil-kecilan ke pemerintah daerah anda, tanyakan
berapa sekolah umum yang negeri dan berapa sekolah yang berbasis agama islam
yang negeri. Rasanya “jomplang” sekali jumlahnya, pertanyaannya, bagaimana
orang tua akan yakin menyekolahkan anaknya ke sekolah berbasis agama,
pemerintahnya saja kurang begitu memberikan perhatian kepada sekolah berbasis
agama islam?
            Di
daerah Priangan Timur, khususnya di Kota Banjar saja, anda bisa melakukan
survey secara kasat mata saja. Pertama, sekolah tingkat MI yang negeri dan SD
yang negeri ada berapa dan berapa perbedaan jumlahnya? Selanjutnya sekolah
setarap MTs dan SMP berapa jumlah masing-masingnya, dan yang lebih miris,
sekolah MA Negeri di Kota Banjar hanya ada satu, sedangkan sekolah umumnya yang
negeri ada 3, yakni SMAN 1 Banjar, SMAN 2 Banjar, SMAN 3 Banjar, belum lagi
SMKN-nya, ada 4. Sekolah MAN Negerinya hanya 1, sekolah SMA dan SMK-nya ada 7,
mengapa seperti ini? Jawaban masyakat klasik, prosfeks ke depannya lebih bagus
sekolah umum. Pertanyaan selanjutnya berapa persen jumlah warga Banjar yang
beragama islam?
            Jadi,
simpulannya umat islamnya saja seakan alergi dengan sekolah berbasis agama!
           
           

            

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *