Peran Pelatih Pembina Pramuka Menghadapi Kesiapan Gugus Depan Melaksanakan Ekstra Kurikulum Wajib Pendidikan Kepramukaan

Advertisement
loading...
Peran
Pelatih Pembina Pramuka Menghadapi Kesiapan Gugus Depan Melaksanakan Ekstra
Kurikulum Wajib Pendidikan Kepramukaan
            Gerakan
Pramuka sebagai salah satu wadah untuk mendidik karakter generasi muda
Indonesia, memiliki peran vital di tengah kehidupan bermasyarakat. Dalam setiap
kegiatannya dituangkan dalam suatu proses pendidikan kepramukaan yang
mengandung nilai-nilai luhur. Proses pendidikan yang dimaksudkan dalam hal ini
adalah cara menata dan mengatur kegiatan yang berkaitan dan saling berkesinambungan.
            Tim
Esensi Gerakan Pramuka (2012), menjelaskan bahwa sebagai wadah pendidikan
nonformal, Gerakan Pramuka menggunakan prinsip dasar Kepramukaan dan metode
Kepramukaan. Proses pendidikan Kepramukaan pada hakikatnya berbentuk kegiatan
menarik yang mengandung pendidikan, bertujuan pendidikan yang dilandasi
nilai-nilai pendidikan dan dilaksanakan di dalam (intern) dan di luar (ekstern)
lingkungan pendidikan.

            Pendidikan
kepramukaan sesuai gagasan penciptanya, Lord Boden Powell, yang mula-mula
dituangkan dalam buku Scouting for Boys,
pada dasarnya ditujukan pada pembinaan anak-anak dan pemuda, bukan untuk orang
dewasa, yang akan bertindak sebagai pamong dengan sikap yang sesuai dengan
sistem among, membawa peserta didik dengan tujuan Gerakan Pramuka.
            Dengan
demikian maka fungsi pendidikan kepramukaan akan berbeda yaitu untuk anak-anak
dan pemuda berfungsi sebagai permainan atau kegiatan yang menarik. Sedangkan
bagi orang dewasa merupakan pengabdian diri para sukarelawan. Maka, untuk
menunjang proses pendidikan kepramukaan berjalan sebagai mana mestinya,
dibutuhkan Pembina-pembina yang berkualitas di setiap satuan dan Gugus depan.
            Para
Pembina Pramuka berkualitas tersebut dapat terwujud dengan dukungan yang
konsisten dalam bentuk pelatih Pembina yang berkualitas pula. Oleh karena itu,
dalam Karya Tulis ini akan membahas,”Peran Pelatih Pembina Pramuka Menghadapi
Kesiapan Gugus Depan Melaksanakan Ekstrakulikuler Wajib Pendidikan Kepramukaan.”
            Pada
sisi lain, pendidikan kepramukaan yang berkedudukannya sebagai pendidikan
non-formal, yang mendidik anak dan remaja dengan metode Kepanduan/ Kepramukaan
di luar sekolah juga memiliki sejarah panjang, sejak zaman sebelum kemerdekaan
dan dikukuhkan secara nasional dengan keputusan Presiden (Kepres) Nomor 238
Tahun 1961 dan dikukuhkan kembali dengan Undang-undang RI Nomor 12 Tahun 2010
tentang Gerakan Pramuka secara konsepsional, kurikulum nasional dan pendidikan
Kepramukaan mengacu pada tujuan pendidikan nasional dengan spesifikasi rencana,
tujuan, bahan pembelajaran masing-masing.
            Secara
substansial keduanya mengemban amanah yang sama yaitu mengembangkan kompetensi
sikap, pengetahuan dan keterampilan, dengan perbandingan proforsional sesuai
dengan kedudukannya sebagai pendidikan formal dan non-formal. Secara
metodologis keduanya mengacu pada satu system yaitu system among, dengan
derivasinya sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis peserta didik. Dalam
pendidikan kepramukaan, system kurikulum diwakili oleh Syarat Kecakapan umum
(SKU) dan Syarat Kecakapan Khusus (SKK) yang memuat substansi pengetahuan,
keterampilan, dan sikap dengan standar kompetensi yang lebih fleksibel.
            Secara
metodologis pendekatan yang selama ini digunakan oleh Gerakan Pramuka dengan
konsep kegiatan pendidikan yang menyenangkan tampaknya digunakan dalam
pendidikan formal.
            Relevansi
amanat, substansi dan metodologi yang dituangkan dalam Kurikulum 2013 dengan
system pendidikan Kepramukaan merupakan potensi yang dapat dikembangkan dalam
rangka peningkatan mutu pendidikan dan pencapaian tujuan pendidikan nasional,
melalui kebijakan pengembangan pendidikan kepramukaan sebagai ekstrakulikuler
wajib di sekolah.
Pola Implementasi Ekstrakulikuler Wajib
            Jalinan
relevansi antara kurikulum 2013 dengan pendidikan keramukaan yang bertumpu pada
komitmen dedikasi pada siswa atau peserta didik, hendaknya dilambangkan secara
demokratis dengan azas kepramukaan yaitu sukarela. Sehubungan dengan hal
tersebut, maka diusulkan pada pengembangan sebagai berikut :
  1. Ekstrakulikuler
    wajib dalam hal ini bermakna wajib dilaksanakan di sekolah, semua siswa
    diwajibkan menjadi anggota pramuka atau mengikuti kegiatan pendidikan
    kepramukaan.
  2. Penyelenggara
    ekstrakulikuler ini, dilaksanakan secara kelembagaan Gerakan Pramuka yaitu
    membentuk gugus depan yang berpangkalan di sekolah, dengan standar gugus
    depan tidak lengkap (sesuai dengan potensi peserta didik) di sekolah yang
    bersangkutan.
  3. Langkah
    awal hendaknya dilakukan adalah penyiapan sumber daya manusia Pembina
    pramuka dengan pola alternative sebagai berikut ;
a.       Melaksanakan
kursus mahir dasar bagi guru, pada satuan sekolah , minimal tersedia 2 orang
Pembina ( 1 pembina putera, 1 pembina puteri) sebagai penanggungjawab atau
pimpinan gugus depan.
b.      Menugaskan
salah seorang Pembina pramuka dari luar yang telah memiliki kualifikasi minimal
Pembina mahir sesuai dengan jenjang dan satuan.
c.       Pembantu
Pembina gugus depan diambil dari penegak/ pandega yang telah mengikuti kursus
mahir dasar minimal telah mencapai TKU penegak laksana.
  1. Melaksanakan
    seminar-seminar pembinaan pramuka atau karangpamitran di tingkat gugus
    depan sekolah dalam rangka pengembangan dan re-orientasi materi SKU dan
    SKK yang memiliki relevansi dengan mata pelajaran dan standar metode
    latihan.
  2. Melaksanakan
    system pembinaan secara rutin berkala terhadap keseluruhan aktivitas gugus
    depan yang berpangkalan di sekolah, untuk mengapresiasi aspek-aspek :
a.       Sumber
daya manusia guru yang berproses sebagai Pembina pramuka angka kreditnya.
b.      Peningkatan
dan kemajuan latihan peserta didik dengan apresiasi standar nilai
ekstrakulikuler berdasarkan capaian SKU dan SKK.
c.       Evaluasi
terhadap administrasi gugus depan sebagai apresiasi terhadap system manajemen
gugus depan.
d.      Prestasi
gugus depan dengan melaksanakan kegiatan lomba-lomba antar gugus depan secara
berjenjang dari gugus depan sampai provinsi.
e.       Melakukan
akredetasi gugus depan yang berpangkalan di sekolah atau satuan pendidikan.
  1. Meningkatkan
    pembinaan pramuka yang berpangkalan disekolah dengan menyelenggarakan atau
    mengikuti kursus Pembina mahir atau karangpamitran yang dilaksanakan oleh
    kwartir bekerjasama dengan Disdikpora.
Dinamika pelatihan
Pembina dan problematika di tingkat kota tu menjadi salah satu polemik bagi
para pelatih Pembina pramuka di kabupaten/kota. Pada hakikatnya para pelatih
Pembina pramuka ingin menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas baik dan
mumpuni dalam melahirkan Pembina-pembina yang baru. Akan tetapi, ada kalanya
calon Pembina yang ditempa dalam kursus mahir dirinya belum siap secara fisik
maupun mental, terutama secara mental Pembina dalam berbagai tingkatan anak didik
kepramukaan mempunyai atmosfer yang berbeda-beda di mana adakalanya di dalam
pendidikan secara formal kedekatan antara bapak atau ibu guru dengan anak didik
atau siswa tidak terlalu terlihat signifikan, karena ada batasan yang nampak
terlihat jelas norma antara guru dan siswa, ketika masuk ke dalam kepramukaan
kebiasaan antara siswa dan guru tidak nampak karena di dalam pramuka menganut
system kekeluargaan, di mana di dalamnya diperkenalkan ayah ibu kakak dan ade
dalam kesehariannya. Oleh karena itu, Pembina harus pintar beradaptasi dan
seorang pelatih Pembina juga harus bisa mendoktrin dan memberikan faham dalam
jalannya kursus mahir dan kegiatan Karangpamitran, supaya para Pembina dalam
implementasi di lapangan bisa dengan sepenuh hati dan dengan kemampuan yang
mumpuni.
Berdasarkan uraian
tersebut dapat disimpulakn bahwa kegiatan Pramuka harus menjadi acuan dalam
pembentukan karakter generasi bangsa. Tentunya generasi bangsa yang baik dan
berkualitas harus dilatih oleh Pembina-pembina yang berkualitas, namun semua
itu tidak akan tercapai jika tidak ada pelatihan secara rutin dan berkala.
Sebab pembentukan karakter yang berkualitas bukan diciptakan secara tiba-tiba
melainkan proses yang memerlukan waktu yang cukup panjang. Jika hal tersebut
terlaksana dengan baik, maka generasi bangsa yang selanjtnya akan menjadikan
pramuka sebagai kawah candradimuka pembentukan karakter bangsa.
Pelatihan yang rutin
dan berkala tersebut, bukan sekadar seremoni yang begitu saja dilakukan akan
tetapi harus menjadi wadah pembinaan. Pembinaan akan tercapai dengan baik, jika
pelatih Pembina memiliki kualitas yang baik. Maka dari itu peran pelatih
Pembina sangat menentukan Pramuka ke depannya.

Incoming search terms:

Advertisement
Loading...
Peran Pelatih Pembina Pramuka Menghadapi Kesiapan Gugus Depan Melaksanakan Ekstra Kurikulum Wajib Pendidikan Kepramukaan | afgan19 | 4.5