Guru di Prancis Usir Pelajar Muslim dari Kelas karena Jilbab dan Rok Panjang

Guru di Prancis Usir Pelajar Muslim dari Kelas karena Jilbab dan Rok Panjang
Sungguh tidak manusiawi sekali. Sebagai negara yang
peradabannya sangat maju, Prancis ternyata masih picik. Seorang remaja pelajar di Prancis diusir dari kelas karena
mengenakan rok dan jilbab. Pakaian itu dituding oleh sang guru, sebagai simbol
terang-terangan agama Islam. Prancis masih memiliki ruang bias antara lembaga
publik yang sekuler dengan populasi Muslim yang besar di sana. Mana Prancis yang begitu
menggembor-ngemborkan HAM, ternyata Prancisnya sendiri yang menyalahi aturan.
Kejadian tersebuat terjadi saat seorang guru di kota timur laut Charleville-Mezieres mengusir Muslim
15 tahun, Sarah, karena rok panjangnya, beberapa waktu yang lalu.
Kendati demikian, sang murid membantah.

“Tidak
ada yang istimewa dengan rok itu, itu sangat sederhana, tidak ada yang
mencolok. Tidak ada tanda agama apapun,” kata Sarah kepada surat kabar
lokal
L’Ardennais
, dilansir France24 dan dikutip Republika.
Hukum
Perancis melarang penggunaan simbol-simbol keagamaan seperti jilbab, serta
kippa Yahudi dan salib. Sekolah-sekolah di Paris menyesuaikan nilai-nilai
sekuler yang memisahkan antara agama dan negara. Sungguh aneh ketika sebuah negara yang besar
memisahkan antara agama dengan urusan negara. Harusnya agama itu ada disetiap
sendir kehidupan.
Dinas
pendidikan daerah setempat membenarkan peristiwa pengusiran tersebut. Mereka
mengatakan bahwa mengenakan pakaian tertentu bisa menjadi bagian dari
‘provokasi’ agama. Sungguh ironi ketika pakaian jilbab dikatakan sebagai bahan provokasi
agama tertentu.
Patrice
Dutot, kepada Dinas pendidikan setempat berkilah, Sarah sebenarnya belum
dikeluarkan dari kelas, tapi diminta untuk datang kembali dengan pakaian
netral. Hanya saja, sang ayah tidak ingin anaknya itu kembali ke sekolah dengan
kebijakan demikian. Seharusnya sebuah negara tidak berpandangan picik akan atribut sekolah.