Berita di Indonesia, antara Tutup Kasus dan Pencitraan

Berita di Indonesia, antara Tutup Kasus dan
Pencitraan
            Mendagri
di Kabinet Kerja “Jokowi – JK” menyatakan bahwa kolom agama di KTP harus
dihilangkan. Yakinkan semua itu akan terlaksana, atau hanya sekadar cari
sensasi pemberitaan semata kabinet yang baru? Ntahlah, dunia politik memang tak
bisa ditebak, sebab tidak ada warna putih dan hitam yang ada semuanya abu-abu
atau tak jelas.
            Tengok
juga pemberitaan, betapa kerasnya Ahok, Plt. Gubernur DKI Jakarta, yang begitu
percaya diri akan dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta. Tak ketinggalan FPI,
sebagai salah satu ormas Islam yang tak menginginkan Ahok menjadi Gubernur,
bukan tanpa alasan, selain bukan beragama Islam, Ahok juga memiliki sifat dan
sikap yang terlalu kasar, bahasa kasar dan terkadang perintahnya seakan bukan
pejabat panutan, yang tak kalah menjadi sorotan adalah banyak bermunculan
gereja-gereja di DKI Jakarta, sebagai dampak Ahok terpilih sebagai orang no 2
di Jakarta.

            Belum
selesai sampai di sana, pemberitaan kenaikan harga BBM sekana menjadi sorotan
yang kesekian kalinya. Ormas Islam lainnya tak ketinggalan melakukan penolakan,
dalam hal ini yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). HTI dengan lantang menentang
kenaikan harga BBM dan liberalism Migas.
            Apa
yang sedang terjadi di Indonesia sebenarnya?
            Ntahlah
hanya mereka yang kini menjabat dan Tuhan yang tahu, semoga niat negative yang
dilakukan oleh para pejabat, semoga di gagalkan oleh Allah Swt., jika hal
tersebut hal baik, semoga terlaksana dan dimudahkan oleh Yang Maha Kuasa.
            Berita
apa lagi yang ada di Indonesia? Sungguh lelah rakyat Indonesia menyaksikan
pemberitaan di Indonesia, jangankan oleh berita oleh keadaan hidup saja sangat
sulit, apalagi mendengar, melihat pemberitaan yang ada di media.
            Bagi
mereka yang kini sedang menjabat, masih banyak hal besar yang harus segera
diselesaikan, jangan sampai hal kecil bahkan yang paling sensitive (soal agama)
justru malah memperkeruh keadaan rakyat Indonesia. Lakukanlah segera yang
terbaik pada amanat yang sekarang sedang Anda pegang. Sebab, semuanya akan
dimintai pertanggungan jawab.
            Rakyat
ingin sejahtera, pemimpin ingin tenang dan bahagia melihat rakyatnya sejahtera,
namun jangan sampai menjual sejengkalpun tanah air Indonesia kepada asing. Anda
menjadi pejabat, bukan sebagai sales tanah air kepada negara asing.