Toleransi 5 % Hasil Ujian Nasional untuk Masuk Perguruan Tinggi

Persoalan
mengenai kebocoran Ujian Nasional rasanya tidak akan pernah berhenti, walaupun
di sisi lain kita perlu optimis bahwa semua persoalan Ujian Nasional akan mampu
diselesaikan. Kini, memang Ujian Nasional tidak dijadikan sebagai standar
kelulusan siswa, sebab hal itu dikembalikan kepada sekolahnya masing-masing.
            Menyoal perihal tersebut, siswa kini
tidak terlalu stress dengan adanya Ujian Nasional walaupun nilai besar tetap
menjadi incaran siswa. Namun yang terpenting sekarang bukan sekadar 100 %
lulus, namun 100 % jujur. Betapa indahnya slogan tersebut, dan jauh betapa
indahnya pula jika semua itu terjadi di lapangan.
            Persoalan Ujian Nasional yang tidak
mementukan kelulusan seakan memberikan angin segar kepada siswa sehingga tidak
terlalu tertekan. Namun perlu diingat bahwa nilai UN ternyata menjadi
pertimangan yang cukup dominan ketika siswa tersebut meneruskan ke perguruan
tinggi.
            Hal senada yang dibicarakan antara
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan dengan Menteri Riset,
Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhamad Nasir terkait dengan penggunaan UN
sebagai pertimbangan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).
            Menteri Riset, Teknologi dan
Pendidikan Tinggi, Muhamad Nasir sebelumnya mengatakan akan mentoleri
kecurangan Ujian Nasional sebesar 5 %. Jikalah nanti hasil analisis menunjukan
kecurangan yang terjadi lebih dari 5%, UN bisa tidak digunakan sebagai
pertimbangan untuk diterima di Perguruan Tinggi Negeri.
            Menanggapi hal tersebut Kepala Pusat
Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kemendikbud, Nizam mengatakan soal UN sudah
dirancang dengan banyak paket sehingga soal Ujian Nasional antara satu prvinsi
dengan provinsi lain akan berbeda, termasuk provinsi yang bertetangga
sekalipun.

            Untuk menindaklanjuti dan mencegah
kembali bocornya soal dan kuncijawaban Ujian Nasional, Kemendikbud menyuruh
kepada setiap Dinas Pendidikan di seluruh Indonesia didorong untuk mengusut
semua kecurangan yang terjadi pada sekala local. Diharapkan dengan langkah
seperti itu mampu membuat jera setiap pelaku, dan pendidikan di Indonesia akan
semakin baik.