Kurikulum 2013 Oh…Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 Oh…Kurikulum 2013
(Antara Optimisme dan Dilemaisme)
            Sesuatu
yang baru sering kali dianggap sebagai hal yang istimewa, padahal belum tentu
semua itu istimewa. Begitu juga dengan penerapan kurikulum baru, yang
belakangan ini santer diberitakan, Kurikulum 2013. Kurikulum tersebut dianggap
sebagai dewa yang turun ke dunia pendidikan yang mampu mengubah perilaku,
karakter, sifat, keilmuan, keterampilan dan masa depan peserta didik. Namun,
sayang seribu sayang kurikulum sebelumnya baik itu KTSP maupun KBK, karena
telah ada kurikulum yang baru, maka yang lama dianggap sudah basi, sudah tidak
diperlukan, yang sekarang dipuja adalah kurikulum baru. Ibarat pacar, Kurikulum
2013 adalah pacar baru dan yang lama jadikan mantan saja.
            Anda
boleh marah dan boleh pula setuju dengan pernyataan di paragraph tersebut,
namun jika kita telusuri, paragraph tersebut ada benarnya. Belum sempurna
kurikulum dilaksanakan, datang lagi kurikulum yang baru. Faktor apa yang dapat
menyebabkan kurikulum berganti? Benarkah kemajuan ilmu dan teknologi, benarkah
zaman yang berganti atau karena Menterinya dan Presidennya yang berganti?
Renungkan pertanyaan tersebut, maka akan dapat diketahui jawabannya.
            Saat
KBK datang dengan segala programnya, maka banyak pakar pendidikan yang ikut
berkomentar bahwa KBK akan menjadikan siswa aktif. Suasana duduk siswa berubah
tidak seperti biasanya, melingkar, mengelilingi tempat duduk guru/pengajar,
sayang seribu sayang KBK dalam beberapa tahun ke depannya, seakan dicampakan,
dan datanglah KTSP dengan segala harapan-harapan yang diberikan pada dunia
pendidikan, apakah benar, ketika kurikulum berganti, cara mengajar guru pula
berganti menjadi lebih baik? Atau itu hanya bersifat administrasi di atas
kertas? Rasanya sama-sama saja, terlebih bagi pengajar yang kurang inovatif dan
kreatif, bahkan hingga ada istilah CBSA (Cuk Budak Seuna Arulin), sungguh miris
sekali, jika hal ini terjadi secara terus-menerus.
            Benarkah
kini, Kurikulum 2013 pun memberikan angin segar bagi dunia pendidikan, atau
justru mendatangkan angin “proyek” bagi pemangku kebijakan? Tidak sedikit
ketika KTSP dilaksanakan, tetap saja soal UAS dibuat oleh Kementrian yang
membawahinya, bukan oleh guru-guru pengajarnya yang berada di sekolah tersebut,
bukankah KTSP kepanjangan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sekolah),
atau kepanjangan dari “Kurikulum Tidak Siap tapi Proyek”. Terlepas di antara
anda ada yang senang atau tidak dengan artikel ini, semoga sedikit banyaknya
dapat membuka mata pemangku kebijakan di negeri ini, baik tingkat pusat,
provinsi, kabupaten/kota. Jangan gadaikan siswa Indonesia hanya untuk proyek
semata.
            Sekarang
ini, ditahun 2014, penerapan kurikulum 2013 sudah menginjak tahun pertama.
Sudah sejauh manakah persiapannya? Dalam sebuah surat kabar dinyatakan ada
130.000 sekolah yang belum menerima buku Kurikulum 2013. Mengapa ini terjadi?
Apakah persiapannya benar-benar matang atau mengejar target sebelum penggantian
pemerintahan yang baru? Jangan bermimpi menjadi bangsa besar jika korupsi ada
diberbagai sendi kehidupan bernegara.
            Ada
beberapa pernyataan dari Waakil Menteri Pendidikan, yang dijadikan sebagai
alasan mengapa buku belum tersalurkan, diantaranya adalah percetakan
menargetkan 14 Juli 2014 sudah selesai, namun ternyata itu tidak ditepati,
hingga janji akan selesai di tanggal 4 Agustus, sayang seribu sayang, ternyata
diundur kembali hingga tanggal 15 Agustus 2014, apakah semuanya sudah terkirim,
atau semua it hanya harapan kosong yang pemangku kebijakan katakana kepada
pihak sekolah, agar tenang? Penerapan Kurikulum 2013 ternyata tidak sesiap,
gembar gembor pemberitaannya.
            Jangan
memutuskan kebijakan ketika tidak siap!!!