Belajar dari Alm. Ibu Een Sukaesih, Guru Qalbu

Advertisement
loading...
Belajar
dari Alm. Ibu Een Sukaesih, Guru Qalbu
            Innalillahiwainnailaihirajiun…Semoga
Allah Swt., menerima amal ibadah beliau (Ibu Een Sukaesih) dan memberikan
ampunan atas kesalahan beliau. Beberapa hari yang lalu, Indonesia kehilangan
sosok guru qolbu, guru yang sungguh tulus ikhlas dalam memberikan pembelajaran
kepada anak-anak bangsa. Kelumpuhan fisik tidak membuatnya lumpuh pula dalam
memberikan pembelajaran, fisiknya memang tidak sempurna, namun kekuatan mental
dan keikhlasannya sungguh sempurna.

            Beliau
yang merupakan lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung banyak
memberikan pelajaran bagi guru-guru yang lain. Di saat guru yang lain sibuk
menuntut kenaikan pangkat, kepastian pengangkatan PNS dari K-2, disaat dunia
pendidikan disibukan pula dengan pembatalan Kurikulum 2013 dan masalah doa
sebelum dan sesudah pembelajaran yang harus ada bentuk doa nasional, Ibu Een
konsisten dalam perjuangannya mencerdaskan genarasi bangsa.
            Bahkan,
disaat Indonesia sibuk dengan politik, namun sosok Ibu Een begitu konsisten
dalam menjalankan tekadnya untuk mencerdaskan kehidupan gerasi bangsa walau di
tengah keterbatasannya. Kesehariannya hanya dihabiskan dengan berbaring, karena
kelumpuhan fisiknya. Banyak orang yang tidak menyadari, akan kesempurnaan fisik
mereka, kesempurnaan ekonomi, namun mental dan motivasi mereka, begitu cacat,
tidak seperti Ibu Een Sukaesih.
            Dalam
sebuah wawancara di salah satu televisi swasta beliau mengatakan, bahwa dirinya
terbatas akan ilmu, kemampuan yang sedikit, namun itu semua bukan alasan
untuknya berpangku tangan tidak ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa
melalui pendidikan. Beliau sangat menyadari bahwa sebuah bangsa akan disegani
oleh bangsa lain, ketika manusia-manusia bangsa tersebut berpendidikan,
memiliki kemampuan dan keterampilan dalam menjalani kehidupan.
            Masih
adakah guru sekarang ini yang seperti Ibu Een, Sang Guru Qolbu?
            Ketika
para akademisi saling menyatakan setuju dan tidak setuju dengan pemberlakuan
Kurikulum 2013, Ibu Een tidak bergeming dengan pemberitaan itu semua, yang
beliau tahu adalah bagaimana caranya terus mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa
terlalu mempersoalkan kurikulum 2013. Mungkin beliau pun menyakini bahwa
Kurikulum hanyalah kendaraan, bagaimana pun kendaraannya bila supirnya tidak mampu
menjalankan, tetap saja tidak akan melaju mobil tersebut. Begitu juga dengan
guru, bagaimana pun bentuk Kurikulumnya jika gurunya tidak ada tekad untuk
menjadikan generasi bangsa lebih baik, rasanya semua itu omong kosong semata.
Beliau mengajarkan kita untuk tidak memusingkan perihal Kurikulum, namun yang
beliau tekankan yakni ajarilah anak didik dengan hati, sebab hati hanya dapat
tersentuh dengan hati pula. Anak didik memiliki hati, perasaan untuk menjadi
lebih baik, maka dari itu cara guru satu-satunya sentuhlah perasaan siswa
dengan perasaan juga, bukan dengan kekerasan, bukan pula dengan silih
bergantinya kurikulum pendidikan.
           
           

Advertisement
Loading...
Belajar dari Alm. Ibu Een Sukaesih, Guru Qalbu | afgan19 | 4.5